Jelajah Negeri Bangun Anti Korupsi

 

SURAKARTA-Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Surakarta menerima kunjungan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kunjungan ini dilakukan dalam acara Monitoring Implementasi Pendidikan Anti Korupsi. Kegiatan yang diselenggarakan untuk menyosialisasikan pendidikan antikorupsi ke setiap daerah di  Jawa Tengah terutama bagi guru-guru dan pihak sekolah.

“KPK melakukan rangkaian roadshow jelajah negeri. Pihak kami akan mengampanyekan pendidikan antikorupsi disetiap jenjang. Kampanye ini bertujuan memberikan edukasi kepada siswa tentang antisipasi terhadap pidana korupsi.  Kami ingin, melihat irisan kegiatan-kegiatan  pembelajaran dengan implementasi pendidikan antikorupsi. Sebenarnya semua materi pelajaran bisa diberi sisipan materi antikorupsi misal agama, PKN, Bahasa dan lainnya, “ ungkap Ramah Handoko, anggota KPK.

Ramah Handoko beranggapan, jika penyampaian sosialisasi secara langsung ke siswa akan membuat tugas semakin berat karena, jumlah siswa lebih banyak dibandingkan guru dan sekolah. Untuk itu, KPK meminta bantuan dari guru dan sekolah untuk menjadi partner dalam pendidikan anti korupsi. Menurutnya, madrasah ini sudah bagus, sekolah mengampanyekan program untuk mengurangi plastik, dan memiliki rasa peduli yang cukup tinggi.“ Dengan adanya program adiwiyata untuk peduli lingkungan, kami juga berharap madrasah ini dapat memberikan pendidikan antikorupsi pada siswa-siswanya, “ tambahnya.

Rais Hidayat menuturkandatangnya KPK ke madrasah ini untuk memonitoringdan melihat sejauh mana implementasi pendidikan anti korupsi di setiap pembelajaran. “Kami sangat mendukung kegiatan KPK di madrasah ini karena menjadi madrasah yang ditunjuk oleh pemerintah. Kami jadi termotivasi untuk menjadikan madrasah ini sebagai madrasah yang berintegritas,” imbuhnya.

“Sebenarnya waktu awal-awal, saya agak terkejut ketika sedang ikut pelajaran dipanggil dari kesiswaan supaya persiapan untuk diwawancarai pihak KPK. Biasanya  kedatangan KPK didentikkan dengan masalah keuagan. Ternyata ada sosialisasi program pendidikan antikorupsi. ,” ujar Naufal Aban, Kelas 8 FD1

“Pertamanya saya juga kaget, soalnya KPK itu adalah lembaga besar yang professional dan sigap. Apalagi ini juga dari pusat, jadi saya juga merasa sekolah ini istimewa. Selain itu, saya juga dapat mengambil pelajaran dari kunjungan KPK ini. Harapannya untuk teman-teman agar bisa menerapkan pendidikan antikorupsi sejak dini dan jangan sampai melakukan korupsi,” ucap Tsalis, Wakil Ketua OSIS.

Indonesia cukup terkenal sebagai negara dengan angka korupsi yang tinggi. Indonesia menempati ranking 88 dari 180 negara. Oleh sebab itu, pihak KPK berharap setiap tahunnya materi pendidikan antikorupsi tetap disampaikan sehingga ada perubahan yang signifikan terhadap perilaku siswa agar 20-50 tahun ke depan angka korupsi di Indonesia berkurang. Implementasi anti korupsi dapat dimulai dari yang sederhana, dan dibiasakan di mana saja.(Diana/Kristanti)