Pelatihan Soal HOTS Tingkatan Kompetensi Guru

 

Surakarta- Meningkatkan kompetensi guru dapat dilakukan dengan kegiatan yang bertujuan untuk perbaikan dan pertumbuhan kemampuan, sikap dan keterampilan. Meningkatkan kompetensi guru merupakan salah satu cara untuk memenuhi standar kompetensi yang sesuai dengan tuntutan profesi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasar hal tersebut, MTsN 1 Surakarta menggelar kegiatan Pelatihan Penyusunan Soal HOTS  yang diselenggarakan di Hotel Megaland, Surakarta pada Senin (21/10/19).

“Siswa kita sekarang hidup di zaman modern, maka harus dilatih olah pikirnya. Guru madrasah diibaratkan juru masak yang mengolah siswanya. Siswa dilatih dan dibantu untuk bisa berpikir tingkat tinggi. Proses KBM dan evaluasi mempengaruhi olah pikir sehingga siswa terlatih mengatasi permasalahan dengan cara berpikir tingkat tinggi. Hal inilah yang mendorong guru untuk menyusun alat evaluasi dengan soal HOTS,” tutur Kirno Suwanto dalam sambutannya.

Materi pertama dalam pelatihan ini adalah Kebijakan Kementerian Agama dalam pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 yang disampaikan oleh Kepala Kementerian Agama Kota Surakarta, H. Musta’in Ahmad, S.H, M.H. Beliau menyampaikan bahwa seorang pendidik mau tidak mau harus mengikuti perkembangan zaman. “Orang harus berani bermimpi, berencana, dan segera bangun untuk merealisasikan mimpinya. Revolusi Industri 4.0 sangat berpengaruh pada dunia pendidikan. Pendidikan 4.0 merupakan pendidikan yang bercirikan pemnfaatan  teknologi digital dalam proses pembelajaran atau dikenal dengan sistem siber (cyber system),” jelas Musta’in.

Materi kedua disampaikan oleh Dra. Sri Hartati, M.Pd., Pengawas Kankemenag Kota Surakarta yaitu Peran Guru dalam Proses Pembelajaran di Era Revolusi 4.0. Beliau menyampaikan 5 budaya kerja Kememterian Agama yaitu Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggung Jawab dan Keteladanan. “Seorang guru harus memberikan keteladanan. Menyentuh karakter anak bisa dengan  cerita inspirasi,” jelas Sri Hartati.

“Keterampilan berpikir tingkat tinggi meliputi kemampuan untuk memecahkan masalah, berpikir kritis, kreatif, kemampuan berargumen, dan menarik kesimpulan, “jelas Dr. Wasimin, M.Pd. narasumber utama dalam pelatihan.” Pembelajaran dan penilaian wajib dimulai pada taksonomi Bloom yang direvisi. Guru wajib mengetahui Dimensi (jenis) pengetahuan yang meliputi, faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif, serta dimensi proses berpikir dari C1 sampai dengan C6, “ tambah Wasimin.

Peserta Pelatihan mengikuti kegiatan dengan antusias dan penuh perhatian. Mereka berharap dengan pelatihan ini dapat membawa kebaikan dan peningkatan dalam cara mengajar mereka. “Kegiatan sangat bermanfaat, penyampaian narasumber sangat jelas, lugas dan mudah dipahami. Sayang sekali, waktu penyajian narasumber utama dari LPMP Jateng sangat singkat,” tutur Kristanti Handayani, Guru Bahasa Indonesia.(Diana/Duwi Saputro).